Sebagai bagian akhir dari pembahasan mengenai esensi keyakinan para utusan, penting untuk memahami bahwa meskipun syariat atau tata cara ibadah teknis yang dibawa oleh setiap rasul mengalami penyesuaian dari masa ke masa—sesuai dengan kondisi zaman dan kaum yang dihadapi—inti ajaran mereka tetaplah sama persis, yaitu tauhid.

Semua nabi dan rasul, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, memiliki misi utama yang selaras: mengajak umat manusia untuk mengesahkan Allah SWT dan membersihkan diri dari segala bentuk kemusyrikan. Di dalam literatur teologi Islam, penyerahan diri secara total kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan mengesampingkan segala sesembahan selain-Nya dikenal sebagai esensi dari agama para nabi, yaitu Islam.

Kitab suci Al-Qur'an secara tegas merekam bagaimana para nabi besar terdahulu mengikrarkan kepatuhan ini. Contohnya dapat dilihat pada Nabi Ibrahim dan keturunannya yang mewasiatkan agar tidak menghadap kepada kematian kecuali dalam keadaan berserah diri (muslim), serta Nabi Isa yang dengan tegas menyeru kaumnya untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini menunjukkan bahwa sebutan dan identitas keimanan mereka berpijak pada fondasi tauhid yang kokoh.

Kesimpulannya, jawaban atas pertanyaan di atas adalah ya, seluruh nabi menyembah Allah. Perbedaan yang ada di antara umat beragama di kemudian hari bukanlah pada siapa yang disembah oleh para nabi, karena zat yang mereka tuju tetaplah satu, yakni Tuhan semesta alam, melainkan pada dinamika perkembangan syariat historis. Memahami hal ini memperkuat pandangan bahwa benang merah risalah kenabian senantiasa berpusat pada satu misi keimanan yang universal: pengabdian mutlak hanya kepada Allah SWT.