Daftar isi
Secara logis, tinggal di bawah kekuasaan sebuah bangsa selama lebih dari tiga abad seharusnya meninggalkan jejak linguistik yang amat pekat. Lihat saja bagimana Filipina menyerap bahasa Spanyol atau kawasan Indochina dengan bahasa Prancis. Namun di Nusantara, realitasnya bertolak belakang. Masyarakat Indonesia hari ini sama sekali tidak menuturkan bahasa Belanda dalam kehidupan sehari-hari. Jawaban atas teka-teki sejarah ini bukan karena ketidakmampuan intelektual nenek moyang kita, melainkan akibat eksklusivisme rasial komprehensif yang dirancang oleh pemerintah kolonial itu sendiri.
Politik Bahasa Strategis Pemerintah Kolonial Belanda
Tidak seperti kerajaan Inggris yang secara gencar mendirikan sekolah dan menyebarkan bahasa Inggris di tanah jajahannya demi kemudahan administrasi imperial, pemerintah Hindia Belanda justru mengadopsi pendekatan sebaliknya. Para penguasa kolonial di Batavia memandang bahasa mereka sebagai simbol status sosial yang amat eksklusif. Bahasa Belanda adalah penanda ras, hierarki, dan supremasi kulit putih. Eksklusivisme linguistik ini sengaja dipelihara agar batas sosial antara penjajah dan rakyat pribumi tetap tebal dan tidak terpatri kesetaraan.
Pemerintah kolonial merasa khawatir jika warga pribumi mampu menguasai bahasa Belanda, mereka akan memiliki akses terhadap pemikiran politik barat yang liberal, gagasan tentang hak asasi manusia, serta ide-ide kebebasan yang berbahaya bagi kelangsungan kekuasaan mereka. Oleh sebab itu, bahasa Belanda diharamkan bagi mayoritas rakyat. Hanya segelintir elit aristokrat atau golongan bangsawan (priyayi) yang diizinkan mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah Eropa. Bagi rakyat jelata, ruang untuk mempelajari tata bahasa negeri kincir angin tersebut benar-benar tertutup rapat. Pembatasan ini berjalan konsisten hingga abad ke-20.
Mekanisme Sistematis Pemusnahan Jejak Bahasa
Proses eliminasi dan penghambatan bahasa Belanda di tanah air terjadi melalui beberapa tahapan historis yang saling berkait rapat. Pertama, penggunaan bahasa Melayu pasar sebagai lingua franca administratif. Belanda sengaja memilih bahasa Melayu sederhana untuk berinteraksi dengan rakyat jelata agar kedudukan bahasa ibu mereka tetap suci dan tak terjangkau. Langkah strategis ini tanpa disadari justru memupuk cikal bakal bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia di kemudian hari.
Kedua, dekrit radikal pada masa pendudukan Jepang tahun 1942. Ketika bala tentara Nipon merebut kekuasaan, mereka memberlakukan pelarangan total terhadap penggunaan bahasa Belanda di seluruh ruang publik, sekolah, hingga dokumen resmi. Semua plang nama, buku, dan media berbahasa Belanda dimusnahkan dalam sekejap. Hukumannya sangat berat bagi siapa saja yang berani menuturkannya. Penghapusan mendadak ini memutus mata rantai generasi penutur secara drastis dalam hitungan bulan.
Ketiga, nasionalisme pasca-kemerdekaan. Setelah Proklamasi 1945, para pendiri bangsa secara sadar memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional demi menyatukan ribuan pulau. Bahasa Belanda diidentikkan dengan trauma penjajahan dan penindasan, sehingga secara alamiah disingkirkan dari kurikulum nasional dan kehidupan bermasyarakat.
Kasus Kasus Sukarno dan Generasi Terakhir Penutur
Sebuah potret nyata dari dinamika ini dapat kita lihat pada figur Presiden Soekarno dan para pendiri bangsa lainnya. Tokoh-tokoh terpelajar seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, hingga Agus Salim memiliki kemahiran bahasa Belanda pada tingkat akademik yang sangat tinggi. Mereka menggunakannya untuk berdebat di ruang sidang Volksraad dan menulis artikel kritis di media massa. Namun, ketika berkomunikasi dengan rakyat banyak, mereka dengan tegas beralih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah.
Bagi generasi terdidik saat itu, bahasa Belanda hanyalah alat taktis untuk memahami pikiran musuh dan merebut kemerdekaan, bukan identitas kebudayaan yang patut diwariskan kepada anak cucu. Begitu kemerdekaan diraih, penggunaan bahasa ini lantas menguap secara organik dari ruang domestik keluarga Indonesia.
Apa Kata Para Ahli?
Para sejarawan dan linguis terkemuka mencatat bahwa hilangnya bahasa Belanda dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari dekolonisasi linguistik yang terencana. Prof. Dr. Henk Schulte Nordholt, seorang pakar sejarah Asia Tenggara, menjelaskan bahwa rezim kolonial Belanda sendiri memang sengaja membatasi pengajaran bahasa mereka untuk mempertahankan eksklusivitas kelas sosial dan hirarki kekuasaan. Bahasa Belanda dijadikan simbol status yang sangat elit, sehingga mayoritas rakyat pribumi sama sekali tidak memiliki akses untuk mempelajarinya.
Kondisi ini diperparah oleh kebijakan drastis pada masa pendudukan Jepang yang melarang total penggunaan bahasa Belanda di ruang publik maupun administrasi. Menurut linguis Indonesia, Dr. Jerome Wirawan, penghapusan mendadak tersebut mendorong bangsa Indonesia untuk mengadopsi bahasa Melayu—yang kemudian menjadi bahasa Indonesia—sebagai alat pemersatu nasional yang inklusif dan egaliter. Akibatnya, dalam kurun waktu satu generasi saja, transmisi bahasa Belanda antar-generasi terputus secara total, menjadikan bahasa kolonial tersebut asing di tanah yang pernah dijajahnya selama berabad-abad.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah masih ada dokumen sejarah Indonesia yang hanya bisa dibaca dalam bahasa Belanda?
Ya, sebagian besar arsip hukum, pertanahan, catat-catatan administrasi kolonial, serta literatur sejarah abad ke-17 hingga awal abad ke-20 masih tersimpan dalam bahasa Belanda. Hal ini membuat para sejarawan dan ahli hukum modern Indonesia tetap wajib mempelajari bahasa Belanda tingkat lanjut untuk mengkaji sumber-sumber primer tersebut secara akurat tanpa bergantung pada penerjemah pihak ketiga.
Mengapa bahasa Inggris justru lebih populer dibanding bahasa Belanda di Indonesia saat ini?
Bahasa Inggris mendominasi karena statusnya sebagai bahasa global utama dalam diplomasi, ekonomi, teknologi, dan pop culture pasca-Perang Dunia II. Karena bahasa Belanda tidak lagi memiliki nilai guna praktis dalam mobilitas ekonomi maupun pendidikan internasional bagi warga Indonesia, masyarakat secara alami lebih memilih menginvestasikan waktu dan sumber daya mereka untuk menguasai bahasa Inggris.
Sebuah Renungan untuk Anda
Jika sebuah bahasa kolonial dapat terhapus hampir tanpa bekas dari ingatan ratusan juta orang hanya dalam hitungan dekade, mampukah bahasa daerah kita bertahan menghadapi gempuran bahasa global di era digital saat ini?
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.