Apa Jadinya Jika Tak Ada Petani?

Bayangkan dunia tanpa petani. Tidak ada yang membajak sawah, menanam padi, merawat kebun, atau memanen sayuran. Tidak ada tangan-tangan yang pagi-pagi butuh bertemu dengan tanah, panas terik, dan hujan deras demi mengisi meja makan kita. Apa yang akan terjadi?

Ya, mungkin kita akan kelaparan. Tidak ada petani, berarti tidak ada makanan. Gampangnya, begitu. Kita semua butuh nasi, sayur, buah, atau daging—semuanya bermula dari hasil kerja petani. Jika mereka tidak ada, rantai pasok pangan langsung runtuh. Permintaan makanan tetap tinggi, namun pasokan menipis. Maka jadilah kelangkaan.

Ketika bahan pangan mulai sulit ditemukan, harganya akan melambung. Ayam, beras, cabai, telur—semua jadi mahal. Bayangkan harga segenggam beras bisa menyamai harga emas. Terdengar konyol? Tapi dalam situasi ekstrem, itu bisa terjadi. Pasar kehilangan keseimbangan, orang-orang mulai panik, dan ketimpangan sosial makin lebar.

Kita sering mengabaikan peran petani, padahal merekalah penjaga ketahanan pangan. Di tengah kemajuan teknologi dan kota-kota yang menjulang, kita tetap bergantung pada tanah dan petani. Mereka tidak hanya menanam padi, tapi juga menanam harapan—agar kita semua bisa makan setiap hari.

Jadi, lain kali saat menyantap nasi hangat, ingatlah: di balik itu semua, ada petani yang bekerja keras tanpa banyak sorotan. Hormatilah mereka, karena tanpa petani, dunia akan kelaparan.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait