Apa Itu Stunting dan Mengapa Harus Diwaspadai?
Stunting bukan sekadar pertumbuhan badan yang pendek, melainkan kondisi serius yang menunjukkan anak mengalami hambatan pertumbuhan fisik dan kognitif akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang. Anak dikatakan mengalami stunting jika tinggi badannya jauh di bawah standar untuk usianya—lebih dari dua standar deviasi di bawah median pertumbuhan anak menurut panduan WHO.
Kondisi ini umumnya mulai terbentuk sejak masa janin hingga anak berusia dua tahun, sering disebut sebagai 1000 hari pertama kehidupan. Faktor utama penyebab stunting adalah asupan gizi yang tidak mencukupi, terutama pada ibu hamil dan bayi. Kurangnya asupan protein, zat besi, yodium, dan vitamin penting lainnya bisa mengganggu perkembangan tulang dan otak.
Selain gizi, penyebab lainnya termasuk infeksi berulang seperti diare dan ISPA, sanitasi yang buruk, serta akses terbatas terhadap layanan kesehatan. Pola asuh yang kurang tepat, seperti pemberian ASI tidak eksklusif atau pemberian makanan pendamping ASI yang tidak bergizi, juga turut berperan.
Stunting tidak hanya soal tinggi badan, tetapi juga berdampak pada kecerdasan, daya tahan tubuh, dan produktivitas di masa depan. Anak dengan stunting berisiko mengalami keterlambatan belajar dan lebih rentan sakit.
Meski terdengar serius, stunting bisa dicegah. Dengan asupan gizi seimbang sejak hamil, pemberian ASI eksklusif, imunisasi lengkap, dan lingkungan bersih, risiko stunting bisa ditekan. Kesadaran dan peran serta keluarga, masyarakat, dan pemerintah sangat penting dalam memutus rantai stunting di Indonesia.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.