Kutukan Nomor 9 di Chelsea: Mitos atau Fakta?

Di dunia sepak bola, nomor punggung bisa jadi lebih dari sekadar angka. Bagi Chelsea, nomor 9 seolah membawa beban tersendiri. Sejak beberapa tahun terakhir, banyak penyerang top yang dipercaya mengenakan nomor 9, namun hasilnya justru mengecewakan. Bukan keajaiban yang muncul, melainkan deretan performa di bawah ekspektasi.

Dimulai dari Fernando Torres, yang dibeli dengan harga besar pada 2011, namun gagal menunjukkan ketajaman seperti di Liverpool. Lalu datang Gonzalo Higuain, dipinjam pada 2019, dan hanya mencetak sedikit gol sebelum hengkang. Alvaro Morata, yang diharapkan jadi ujung tombak andalan, juga melempem meski awalnya menjanjikan.

Setelah Morata, Chelsea sempat tidak memberikan nomor 9 selama beberapa musim—seolah menghindari nasib buruk. Namun ketika Romelu Lukaku kembali ke Stamford Bridge pada 2021, ia dengan percaya diri memilih nomor 9. Sayang, musimnya penuh cedera dan performa yang tidak konsisten. Ia pun kembali ke Inter Milan setelah hanya satu musim.

Tammy Abraham sempat memakainya sebelum pindah ke AS Roma, dan meski ia cukup produktif, ia tidak dianggap sebagai striker kelas dunia yang dibutuhkan klub. Kini, nomor 9 sempat kosong hingga akhirnya dipakai oleh penyerang muda, tapi belum ada yang benar-benar menghidupi nomor itu dengan gemilang.

Apakah ini benar-benar kutukan? Atau sekadar kebetulan dan tekanan ekspektasi yang terlalu besar? Banyak fans Chelsea mulai bertanya-tanya: siapa yang berani membawa kebangkitan nomor 9? Sampai ada yang sukses, cerita tentang 'kutukan' itu akan terus hidup di Stamford Bridge.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait