Apakah Orang Jepang Kebanyakan Ateis?

Di Jepang, pertanyaan tentang kepercayaan dan agama sering kali membawa jawaban yang mengejutkan. Banyak yang mengira bahwa mayoritas penduduk Jepang adalah ateis, tetapi kenyataannya lebih kompleks dari sekadar angka.

Faktanya, sekitar 31% penduduk Jepang menyatakan diri sebagai ateis, menurut data yang dilansir oleh DW. Namun, angka ini tidak serta-merta berarti mereka sepenuhnya menolak kepercayaan spiritual. Sebagian besar masyarakat Jepang justru tumbuh dalam tradisi Shinto, agama etnis yang kaya akan ritual dan penghormatan terhadap dewa-dewa alam atau kami. Meski tidak secara aktif "beragama" dalam pengertian Barat, banyak orang Jepang tetap mengunjungi kuil saat Tahun Baru, merayakan festival lokal, atau melakukan upacara keluarga yang berakar dari kepercayaan Shinto dan Buddha.

Jadi, meskipun mereka mungkin tidak menganggap diri mereka religius dalam konteks organisasi keagamaan, keterikatan terhadap tradisi dan ritual tetap kuat. Agama di Jepang lebih tentang praktik budaya daripada kepercayaan doktrinal. Orang Jepang bisa merangkap dua tradisi sekaligus—Shinto dan Buddha—tanpa merasa kontradiktif.

Karena itulah, menyebut mayoritas penduduk Jepang sebagai ateis bisa menyesatkan jika tidak dilihat dari konteks budayanya. Mereka mungkin tidak "beragama" secara formal, tetapi nilai-nilai spiritual dan kepercayaan tradisional tetap mengalir dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tanpa label agama yang jelas.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait