Apakah Yesus Bukan Allah?
Yesus bukan Allah, begitu penegasan yang sering muncul dalam diskusi teologis, terutama dari perspektif kepercayaan yang menekankan keesaan Tuhan secara mutlak. Allah—yang dalam Islam disebut Allah, dan dalam tradisi lain dikenal sebagai Tuhan Yang Maha Esa—dipahami sebagai Zat yang tak terlihat, tak terbatas, dan tak bisa digambarkan dalam bentuk apa pun. Ia tidak dapat disamakan dengan makhluk, karena ke-Maha-nyata-an-Nya melampaui ruang, waktu, dan bentuk.
Di sisi lain, Yesus—yang dalam kepercayaan Kristen diyakini sebagai Anak Tuhan atau Tuhan yang menjelma—adalah sosok yang bisa dilihat, disentuh, dan digambarkan. Ia berbicara, makan, menangis, dan akhirnya mati. Hal ini menjadi dasar bagi banyak orang yang berpendapat bahwa Yesus tidak mungkin sama dengan Allah dalam arti hakikat ilahi yang sejati. Bagaimana mungkin Zat yang tak terhampiri dan tak terbatas bisa dibatasi oleh tubuh manusia dan penderitaan kematian?
Banyak tradisi, terutama Islam, menekankan bahwa menggambarkan atau menyamakan Allah dengan bentuk apa pun adalah bentuk penyimpangan. Karena itu, melukis atau membayangkan wujud Allah dianggap tidak pantas, bahkan dilarang. Sementara Yesus, dalam banyak lukisan dan film, digambarkan secara fisik—sesuatu yang tidak mungkin dilakukan terhadap Allah jika Dia benar-benar tak terlihat dan tak terbatasi.
Jadi, perbedaan mendasar antara Yesus dan Allah terletak pada sifat dan hakikat keberadaan-Nya. Jika Allah tak terlihat dan tak terbatas, maka Yesus—yang bisa dilihat dan hidup dalam bentuk manusia—tidak bisa disamakan dengan-Nya. Pandangan ini mengajak kita untuk merenungkan makna ketuhanan dengan lebih dalam, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap sosok Yesus sebagai nabi, utusan, atau tokoh spiritual yang mulia.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.