Nilai Hak Siar Liga 1 Masih Rendah Dibanding Liga-Liga Lain
Sejak pandemi melanda, kompetisi Liga 1 memang mengalami banyak perubahan, termasuk dari sisi pendapatan klub terutama dari hak siar. Pada musim 2019, sebelum pandemi sepenuhnya menghantam dunia sepak bola Indonesia, setiap klub menerima hak komersial sebesar Rp5 miliar. Angka ini mencakup berbagai sumber pendapatan, termasuk hak siar, meskipun sebagian besar pendapatan tersebut bukan semata-mata berasal dari televisi.
Liga 1 sempat terhenti dan kembali digelar dengan sistem seri dalam gelembung (bubble system) pada musim 2021/2022. Kondisi ini membuat pendapatan dari hak siar tidak berkembang secara signifikan. Bahkan hingga kini, nilai hak siar Liga 1 masih jauh tertinggal dibanding liga-liga besar dunia atau bahkan liga regional seperti Liga Malaysia atau Thailand.
Di banyak negara, hak siar menjadi sumber pendapatan utama klub. Namun di Indonesia, klub masih sangat bergantung pada sponsor dan dukungan dari pihak ketiga. Minimnya nilai hak siar juga mencerminkan tantangan dalam segi kualitas siaran, jangkauan penonton, dan daya tarik komersial liga secara keseluruhan.
Meski demikian, ada harapan bahwa dengan kembalinya atmosfer stadion dan peningkatan kualitas pertandingan, nilai hak siar bisa terdongkrak di masa depan. Perlu kolaborasi antara PT LIB, stasiun televisi, dan klub untuk membangun model bisnis yang lebih sehat. Pasar sepak bola Indonesia sebenarnya besar, tapi belum sepenuhnya dimaksimalkan dari sisi komersial.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.