Faktor-Faktor di Balik Stunting Selain Kekurangan Gizi

Stunting sering dikaitkan langsung dengan kekurangan gizi, terutama pada masa pertumbuhan awal anak. Namun, ternyata ada banyak faktor lain yang turut berperan dalam terjadinya stunting, terutama yang bermula sejak masa kehamilan.

Infeksi pada ibu hamil menjadi salah satu penyebab penting. Infeksi seperti malaria, TBC, atau infeksi saluran pencernaan bisa mengganggu penyerapan nutrisi dan memengaruhi pertumbuhan janin. Kondisi ini membuat bayi lahir dengan berat badan rendah, yang meningkatkan risiko stunting di masa depan.

Selain itu, kehamilan pada usia remaja juga berisiko tinggi. Tubuh remaja yang belum sepenuhnya matang secara fisik sering belum siap untuk mendukung tumbuh kembang janin secara optimal. Hal ini bisa berdampak pada perkembangan fisik dan kognitif anak.

Gangguan mental pada ibu, seperti depresi dan kecemasan selama kehamilan, juga berpengaruh. Ibu yang mengalami stres berat cenderung kurang memperhatikan asupan gizi, pola perawatan diri, bahkan ikatan emosional dengan janin, yang semuanya bisa memengaruhi tumbuh kembang anak.

Jarak kelahiran anak yang terlalu dekat (kurang dari dua tahun) memberi tekanan besar pada tubuh ibu. Tubuh tidak punya waktu cukup untuk pulih dan mengisi kembali nutrisi, sehingga janin berikutnya mungkin tidak mendapatkan cukup dukungan untuk tumbuh optimal.

Hipertensi selama kehamilan, terutama preeklamsia, bisa mengganggu aliran darah ke plasenta. Akibatnya, janin kekurangan oksigen dan nutrisi penting, yang dapat memperlambat pertumbuhan.

Melawan stunting bukan hanya soal makanan bergizi. Diperlukan pendekatan menyeluruh yang mencakup kesehatan ibu, kesejahteraan mental, perencanaan keluarga, dan akses terhadap layanan kesehatan yang memadai. Dengan pemahaman yang lebih luas, harapannya angka stunting di Indonesia bisa terus menurun.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait