Di Mana Allah? Jawaban untuk Anak yang Ingin Tahu
Ketika seorang anak kecil bertanya, “Di mana Allah?”, pertanyaan itu bukan sekadar rasa penasaran, melainkan bentuk kepolosan dan keingintahuan alamiah. Sebagai orang tua atau pendidik, bagaimana sebaiknya menjawabnya?
Menurut Syeikh Ali Jum’ah, ulama besar dari Mesir, jika anak bertanya demikian, kita bisa menjelaskan bahwa Allah SWT Maha Suci, tidak bisa disamakan dengan sesuatu apa pun. Allah tidak seperti makhluk-Nya, tidak terbatas oleh ruang atau waktu. Kita tidak bisa menggambarkan keberadaan-Nya seperti kita menggambarkan benda-benda di sekitar kita.
“Allah itu wajib al-wujud,” kata Syeikh Ali Jum’ah. Artinya, keberadaan-Nya mutlak dan pasti. Ia ada tanpa butuh tempat, tanpa batas, tanpa rupa yang bisa digambarkan. Berbeda dengan kita, makhluk yang butuh tempat, waktu, dan kondisi untuk ada, Allah tidak bergantung pada apa pun.
Meski anak kecil belum tentu paham secara mendalam, kita bisa sederhanakan jawaban. Misalnya, “Allah selalu ada, meski kita tidak bisa melihat-Nya. Ia lebih dekat dari yang kamu bayangkan, tapi tidak seperti manusia yang duduk di suatu tempat.”
Ayat Al-Qur’an juga mengingatkan: Allah tidak ada yang serupa dengan Dia (QS. Al-Ikhlas). Jadi, ketimbang menjelaskan lokasi, lebih baik tanamkan rasa cinta, kekagungan, dan keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui segalanya—termasuk pertanyaan kecil yang keluar dari hati seorang anak.
Memberi jawaban yang lembut dan benar secara aqidah adalah bentuk kasih sayang. Dari pertanyaan sederhana, iman anak bisa tumbuh kuat.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.