Kapan Anak Dikatakan Stunting?
Stunting sering dibicarakan dalam konteks kesehatan anak di Indonesia, tetapi banyak orang tua masih bertanya-tanya: kapan sebenarnya seorang anak dikatakan mengalami stunting? Jawabannya bukan hanya dari postur tubuh yang tampak pendek, melainkan berdasarkan ukuran medis yang baku.
Menurut World Health Organization (WHO) melalui Multicentre Growth Reference Study, seorang anak dikatakan stunting jika tinggi badannya berada di bawah -2 standar deviasi (SD) dari median pertumbuhan anak sehat seusianya. Artinya, anak tersebut tumbuh lebih lambat dibanding standar pertumbuhan normal.
Kementerian Kesehatan RI juga mengacu pada patokan ini. Dalam panduan terbitan 14 Oktober 2020, disebutkan bahwa stunting diidentifikasi melalui nilai z-skor tinggi badan menurut umur (TB/U) yang kurang dari -2SD. Pengukuran ini biasanya dilakukan saat anak masih balita, terutama pada masa 1000 hari pertama kehidupan—periode krusial untuk pertumbuhan fisik dan otak.
Stunting bukan hanya soal pendek secara fisik. Kondisi ini sering kali mencerminkan kekurangan gizi kronis sejak dini, yang bisa berdampak pada perkembangan kognitif, sistem kekebalan tubuh, bahkan prestasi belajar di sekolah. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting. Memantau pertumbuhan anak secara rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan bisa membantu mencegah kondisi ini.
Orang tua tak perlu panik bila anak berada di bawah garis pertumbuhan. Namun, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar bisa mendapat penanganan atau asupan gizi tambahan yang sesuai. Pencegahan stunting dimulai dari rumah: pola makan bergizi, ASI eksklusif, dan lingkungan bersih menjadi kunci utama.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.