Kapan Anak Dikatakan Mengalami Gizi Kurang?
Gizi kurang pada anak bukan sekadar soal berat badan yang rendah, melainkan kondisi serius yang bisa mengganggu tumbuh kembangnya secara keseluruhan. Seorang anak dikatakan mengalami gizi kurang atau gizi buruk bila hasil pengukuran berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB) berada di bawah 70 persen dari nilai median yang ditetapkan oleh standar kesehatan dunia, seperti yang ditetapkan oleh WHO.
Secara lebih sederhana, anak dianggap mengalami gizi buruk jika skor z-nya kurang dari -3 SD (standar deviasi). Angka ini menjadi patokan penting bagi tenaga kesehatan untuk menentukan tingkat keparahan gizi kurang. Kondisi ini paling sering terjadi pada anak balita, terutama karena kekurangan energi dan protein secara kronis—yang dikenal sebagai KEP (Kekurangan Energi Protein).
KEP tidak muncul begitu saja. Biasanya akibat asupan makanan yang tidak mencukupi dalam jangka panjang, infeksi berulang, atau kurangnya pemahaman orang tua tentang gizi seimbang. Anak yang mengalami gizi buruk sering terlihat sangat kurus, lemas, dan wajahnya tampak cekung. Bila tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik, keterlambatan perkembangan, bahkan risiko kematian yang tinggi.
Pencegahan dimulai dari rumah. Orang tua perlu memastikan anak mendapatkan makanan bergizi lengkap, teratur, dan sesuai usia. Pemeriksaan pertumbuhan rutin di posyandu atau puskesmas juga penting untuk mendeteksi dini masalah gizi. Dengan deteksi dini dan penanganan tepat, anak yang sempat mengalami gizi kurang pun masih bisa kembali sehat dan tumbuh optimal.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.