Mengapa Indonesia Boleh Berutang?

Utang kerap kali terdengar negatif, tapi bagi negara seperti Indonesia, berutang bisa jadi bagian dari strategi untuk membangun ekonomi. Faktanya, utang pemerintah bukan sekadar beban—tapi alat untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama saat pendapatan negara belum cukup menutup semua kebutuhan.

Kebijakan fiskal ekspansif menjadi alasan utama di balik utang pemerintah. Dalam kebijakan ini, belanja negara sengaja dibuat lebih besar daripada pendapatan. Tujuannya jelas: mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama dalam masa pemulihan atau saat ekonomi lesu. Uang yang dihabiskan pemerintah—baik untuk infrastruktur, bantuan sosial, maupun proyek pembangunan—akan beredar di masyarakat, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya beli.

Bayangkan jika pemerintah harus menunggu hingga punya cukup uang baru membangun jalan, rumah sakit, atau sekolah. Pembangunan akan jalan sangat lambat. Dengan berutang, Indonesia bisa mempercepat pembangunan dan menjaga momentum ekonomi tetap tumbuh.

Asal utang dikelola dengan baik, risikonya bisa dikelola. Selama utang digunakan untuk hal produktif—bukan konsumsi semata—dan penerimaan negara terus meningkat, beban utang tetap berada dalam batas aman. Indonesia, misalnya, selalu menjaga rasio utang terhadap PDB di bawah 60%, yang dianggap sebagai batas aman oleh lembaga keuangan internasional.

Jadi, utang bukanlah masalah jika digunakan secara bijak. Bagi Indonesia, utang adalah alat—bukan tujuan. Tujuannya tetap satu: menjaga ekonomi tetap hidup dan terus tumbuh demi kesejahteraan rakyat.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait