Makanan yang Bisa Pengaruhi Keputihan: Mitos atau Fakta?

Kalimat "Miss V becek" sering digunakan untuk menggambarkan keputihan berlebih, dan banyak yang bertanya-tanya: apakah makanan benar-benar memengaruhi kondisi tersebut? Jawabannya, ada benarnya—meski tidak sepenuhnya sesederhana itu.

Keputihan adalah hal normal yang dialami wanita. Namun, jika berlebihan atau disertai bau tak sedap, gatal, atau perubahan warna, itu bisa jadi tanda ketidakseimbangan di area kewanitaan. Dan ya, pola makan bisa turut andil.

Makanan tinggi gula, misalnya, diketahui dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di tubuh, termasuk di area kewanitaan. Gula berlebih bisa memicu pertumbuhan jamur seperti Candida, yang sering jadi penyebab keputihan abnormal. Makanan olahan dan cepat saji—yang biasanya tinggi gula, lemak trans, dan bahan pengawet—juga bisa berdampak serupa karena memicu peradangan dalam tubuh.

Lalu bagaimana dengan daging dan susu yang diawetkan? Produk ini sering mengandung bahan tambahan seperti natrium nitrit, yang bisa mengganggu keseimbangan hormon dan mikrobioma tubuh jika dikonsumsi terus-menerus. Roti putih, yang punya indeks glikemik tinggi, juga bisa cepat diubah tubuh jadi gula darah—lagi-lagi, ini berpotensi mengganggu keseimbangan internal.

Uniknya, asparagus dan steak masuk dalam daftar. Asparagus sebenarnya makanan sehat, kaya serat dan antioksidan. Tapi bagi sebagian orang, asam amino dalam asparagus bisa mengubah bau cairan tubuh. Sementara steak, terutama daging merah olahan, jika dikonsumsi berlebihan, bisa memicu peradangan ringan.

Kuncinya: pola makan seimbang. Tubuh setiap wanita unik. Jika merasa ada perubahan mencurigakan, lebih baik konsultasi ke dokter daripada langsung menyalahkan makanan tertentu.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait