Mengapa Ada yang Menolak Nabi dan Mengaku Sebagai Nabi?

Sejak zaman dahulu, kehadiran para nabi selalu membawa perubahan besar. Ajaran yang mereka bawa mengajak manusia pada kebenaran, keadilan, dan ketakwaan. Namun, tidak semua orang menerima kedatangan mereka dengan tangan terbuka.

Ada sebagian orang yang justru menolak, bahkan memusuhi para nabi. Salah satu alasannya, seperti yang disebutkan dalam jawaban terverifikasi dari 20 Maret 2018, adalah rasa tersaingi dan dendam. Ketika seorang nabi datang dengan ajaran yang benar, ia sering kali mengguncang kekuasaan, tradisi, atau kepentingan kelompok tertentu. Mereka yang merasa posisinya terancam—baik secara sosial, politik, maupun ekonomi—bisa jadi memilih untuk menolak atau bahkan menciptakan kekacauan.

Bahkan, ada yang sampai mengaku sebagai nabi padahal tanpa landasan yang sah. Hal ini sering terjadi karena hasrat untuk mendapatkan pengaruh atau mengalihkan perhatian dari kebenaran yang dibawa oleh nabi yang sebenarnya. Dalam sejarah Islam, kita mengenal beberapa tokoh yang mengaku nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ, seperti Musailamah al-Kadzab. Pengakuannya tidak datang dari keyakinan yang lurus, melainkan dorongan ambisi dan kebencian terhadap kebenaran yang ditegakkan.

Rasa iri dan penolakan terhadap kebenaran bukan sesuatu yang baru. Bahkan para nabi terdahulu seperti Nabi Nuh, Musa, dan Isa pun mengalami penolakan dari kaumnya. Namun, meski dihadang rintangan, risalah tetap sampai karena dilindungi oleh Allah.

Untuk itu, penting bagi kita untuk selalu merenung, bukan hanya menilai dari luar, tetapi memahami hakikat ajaran yang dibawa. Agar tidak terjebak dalam sikap menolak hanya karena perasaan terancam atau gengsi semata.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait