Siapa yang Berisiko Mengalami Stunting?

Stunting tidak hanya soal pertumbuhan tubuh anak yang terhambat, tapi juga memengaruhi kecerdasan dan masa depannya. Di Indonesia, ada keluarga-keluarga yang masuk dalam kategori berisiko mengalami stunting, terutama jika memiliki satu atau lebih faktor risiko tertentu.

Keluarga berisiko stunting biasanya mencakup mereka yang memiliki anak perempuan remaja, calon pengantin, ibu hamil, atau anak usia 0–23 bulan, bahkan hingga anak berusia 24–59 bulan. Risiko ini semakin tinggi jika keluarga tersebut hidup dalam kondisi kemiskinan, pendidikan orang tua yang rendah, serta akses sanitasi yang buruk.

Faktor-faktor ini saling terkait. Orang tua dengan tingkat pendidikan rendah mungkin kurang memahami pentingnya asupan gizi sejak dini, pola asuh yang tepat, atau kebersihan lingkungan. Sanitasi yang buruk, seperti tidak adanya air bersih atau toilet layak, memicu infeksi berulang pada anak, yang pada akhirnya menghambat penyerapan nutrisi.

Pemerintah dan berbagai pihak telah menggalakkan upaya pencegahan stunting sejak dini, terutama dari masa remaja putri hingga kehamilan dan masa balita. Intervensi seperti penyuluhan gizi, pendampingan ibu hamil, dan perbaikan sanitasi menjadi kunci utama.

Pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat. Dengan mengenali siapa saja yang berisiko, kita bisa lebih cepat bertindak—memberi dukungan, edukasi, dan akses layanan yang dibutuhkan. Karena masa depan anak Indonesia dimulai dari gizi dan perawatan yang tepat sejak awal.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait