Yesus dan Ketaatan kepada Bapa
Ketika membaca pernyataan Yesus, "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri," banyak orang mungkin bertanya-tanya: bagaimana mungkin Sang Anak Allah mengatakan hal seperti itu? Namun, jika kita memahami konteksnya, justru di situlah letak kedalaman rohani dari pelayanan-Nya.
Yesus tidak sedang menyatakan keterbatasan dalam kuasa, melainkan kerendahan hati dan ketaatan mutlak kepada Bapa. Ia datang ke dunia bukan untuk menjalankan kehendak-Nya sendiri, tetapi untuk melakukan kehendak Allah yang mengutus-Nya. Dalam Yohanes 5:30, Ia berkata: "Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil." Ini menunjukkan bahwa setiap perkataan dan perbuatan-Nya berakar pada firman dan kehendak Bapa.
Bayangkan seorang anak yang hanya melakukan apa yang didengar dari orang tuanya—bukan karena ketidakmampuan, tetapi karena ketaatan dan kepercayaan penuh. Demikianlah Yesus. Ia adalah teladan sempurna tentang bagaimana hidup dalam ketergantungan sepenuhnya kepada Allah.
Bagi kita yang mengikut Yesus, pernyataan ini mengajak refleksi. Dalam dunia yang mengejar otonomi dan kebebasan penuh, justru ketaatan yang membuat hidup menjadi bermakna. Yesus menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kehendak sendiri, melainkan pada kesetiaan kepada Tuhan.
Jadi, ketika Yesus berkata Ia tidak berbuat apa-apa dari diri-Nya sendiri, itu bukan kelemahan—melainkan bukti bahwa Ia sepenuhnya menyerahkan diri kepada Bapa. Dan dalam ketaatan itulah, kemuliaan-Nya bersinar paling terang.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.