Pengantar: Memahami Hakikat Keberadaan Sang Pencipta

Pertanyaan mengenai "Allah itu tinggal di mana?" sering kali muncul dalam benak setiap pencari kebenaran, terutama anak-anak muda dan remaja yang sedang dalam tahap kritis mengeksplorasi akidah serta keyakinan mereka. Pertanyaan ini sangat manusiawi karena akal kita terbiasa hidup di dalam ruang dan waktu—tempat di mana setiap benda fisik pasti memiliki dimensi, arah, dan lokasi tertentu. Namun, ketika kita berbicara tentang Sang Pencipta alam semesta, pendekatan berpikir kita harus ditingkatkan dari logika materialistis menuju pemahaman teologis yang murni berdasarkan petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah.

Sebelum kita menyelami lebih jauh mengenai konsep tempat dan keberadaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, penting bagi kita untuk menyadari bahwa akal manusia memiliki keterbatasan. Kita mampu memahami alam semesta yang luas ini, bintang-bintang di galaksi yang jauh, hingga partikel-partikel mikroskopis, tetapi akal kita tidak akan pernah mampu merangkup hakikat Dzat Allah secara menyeluruh. Oleh karena itu, langkah terbaik dalam menjawab pertanyaan ini adalah kembali kepada sumber otentik Islam dan penjelasan para ulama salaf yang lurus.

Batasan Akal Manusia dan Kesalahan Persepsi tentang Tempat

Ketika seseorang bertanya tentang tempat tinggal Allah, sering kali terselip sebuah asumsi tersembunyi yang keliru: bahwa Allah membutuhkan ruang atau wadah seperti makhluk hidup. Kesalahan persepsi ini biasanya lahir dari anthropomorphism (menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk). Makhluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan memang terikat oleh ruang dan waktu; kita tinggal di bumi, di dalam sebuah rumah, di kota tertentu, pada abad tertentu.

Namun, Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Al-Khaliq (Sang Pencipta), sedangkan segala sesuatu selain-Nya adalah Al-Makhluq (makhluk ciptaan).

  • Pencipta dan Ciptaan Berbeda: Allah menciptakan ruang (tempat) dan waktu. Sebelum ruang dan waktu diciptakan, Allah sudah ada tanpa butuh kepada tempat. Oleh karena itu, tidaklah logis jika Sang Pencipta dibatasi oleh ciptaan-Nya sendiri.

  • Bahaya Menyerupakan Allah (Tasybih): Mengatakan bahwa Allah "tinggal" di suatu tempat dengan makna menempati atau diliputi oleh tempat tersebut adalah sebuah kekeliruan besar dalam akidah. Allah Maha Suci dari sifat-sifat makhluk-Nya.

Para ulama akidah Ahlussunnah wal Jama'ah senantiasa berpesan agar kita menetapkan apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya bagi diri-Nya, tanpa melakukan takyif (menanyakan bagaimana bentuknya), tamsil (menyamakan dengan makhluk), tahrif (mengubah makna), maupun ta'til (menolak sifat tersebut).

Konsep Istawa di Atas Arasy: Memahami Nash Syariat dengan Benar

Dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam beberapa ayat bahwa Dia "Istawa 'alal 'Arsy" (bersemayam di atas Arasy). Ini adalah nash yang shahih dan wajib kita imani. Namun, bagaimana para ulama salaf memahami makna Istawa ini?

  1. Makna Bahasa dan Kebesaran Allah: Secara bahasa, istawa memiliki beberapa arti, namun ketika disandarkan kepada Allah, para ulama seperti Imam Malik rahimahullah memberikan kaidah emas yang sangat terkenal:

    "Istawa itu معلوم (maknanya diketahui), bagaimanapun bentuknya مجهول (tidak diketahui), mengimaninya adalah wajib, dan bertanya mengenainya adalah bid'ah."

  2. Arasy Bukanlah Tempat "Tinggal" dalam Arti Manusia: Arasy adalah makhluk terbesar yang Allah ciptakan, berupa singgasana yang berada di atas seluruh alam semesta. Allah bersemayam di atas Arasy dengan cara yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, bukan berarti Allah "dibatasi" atau "ditampung" oleh Arasy. Allah tidak butuh kepada Arasy, justru Arasy dan seluruh makhluk-makhluk-Nya yang bergantung penuh kepada rahmat dan pemeliharaan-Nya.

Pemahaman ini menjaga kita dari dua ekstrem yang sesat:

  • Ekstrem Pertama (Mu'tazilah/Jahmiyah): Mengingkari sifat Istawa secara total dan mengatakan bahwa Allah ada di setiap tempat secara Dzat (menyatunya Dzat Allah dengan makhluk).

  • Ekstrem Kedua (Musyabbihah): Menetapkan sifat Istawa dengan membayangkan Allah duduk bersila atau menempel pada Arasy sebagaimana makhluk duduk di kursi.

Keduanya adalah jalan yang menyimpang dari petunjuk Islam yang moderat dan murni.

Dimana Allah Berada Menurut Tinjauan Dalil?

Meskipun Allah tidak bertempat dalam pengertian fisik makhluk, dalil-dalil dari Al-Qur'an dan Hadits dengan jelas menunjukkan bahwa Allah di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya, dan terpisah dari makhluk-makhluk-Nya (tidak menyatu dengan alam).

Beberapa dalil utama yang menunjukkan ketinggian Allah meliputi:

  • Al-Qur'an Surat Al-Mulk ayat 16-17: Allah berfirman yang artinya, "Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga tiba-tiba bumi itu bergoncang?" Ayat ini menunjukkan arah ketinggian (al-fauqiyyah) bagi Allah.

  • Hadits tentang Budak Wanita (Hadits Jariyah): Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertanya kepada seorang budak wanita, "Di mana Allah?" Jawab wanita itu, "Fi-s sama' (Di atas langit)." Nabi kemudian bersabda kepada majikannya, "Merdekakanlah ia, karena sesungguhnya ia adalah seorang wanita mukminah." Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan menjadi salah satu hujjah terkuat di kalangan ulama bahwa fitrah manusia mengenali Allah berada di atas.

Ketinggian Allah ini adalah ketinggian mutlak—ketinggian Dzat (fauqiyyah dzatiyyah) sekaligus ketinggian kekuasaan, sifat, dan kemuliaan (fauqiyyah qahriyyah wa shifah). Allah Maha Tinggi di atas segala sesuatu, dan sama sekali tidak ada sesuatupun dari makhluk-makhluk-Nya yang dapat meliputi-Nya.

Bagian pertama dari artikel ini telah menguraikan landasan dasar akidah, batasan akal manusia, serta dalil-dalil mendasar mengenai keberadaan Sang Pencipta di atas segala makhluk-Nya.

Menempatkan Makna Kebesaran Allah Tanpa Batas Ruang

Bagian akhir dari pembahasan mengenai keberadaan Sang Pencipta ini mengajak kita untuk kembali kepada pemahaman yang lurus berdasarkan dalil-dalil sahih dari Al-Qur'an dan Sunnah. Dalam memandang di mana Allah berada, umat Islam perlu berhati-hati agar tidak jatuh pada penafsiran yang salah, seperti meyakini bahwa Allah berada di setiap tempat secara fisik atau justru menyamakan-Nya dengan makhluk.

Berdasarkan kesepakatan para ulama salaf dan pandangan Ahlussunnah wal Jama'ah, Allah Subhanahu wa Ta'ala bersemayam di atas 'Arsy, tinggi di atas langit. Penetapan ini bukanlah berarti Allah membutuhkan tempat atau dibatasi oleh ruang ciptaan-Nya. Sebaliknya, 'Arsy dan seluruh alam semesta justru berada dalam genggaman kekuasaan serta kebesaran-Nya.

Lantas, bagaimana dengan ayat-ayat yang mengisyaratkan kebersamaan Allah dengan hamba-Nya, seperti firman-Nya bahwa Dia bersama kita di mana pun kita berada? Para ulama menjelaskan bahwa kebersamaan tersebut bukanlah berarti Dzat Allah secara fisik hadir di bumi atau tercampur dengan makhluk. Yang dimaksudkan adalah kebersamaan melalui ilmu, pendengaran, pengelihatan, serta pengawasan-Nya yang meliputi segala sesuatu. Dzat Allah tetap berada di ketinggian, namun tiada satupun gerak-gerik hamba yang luput dari pengetahuan-Nya.

Pemahaman ini menegaskan prinsip Mukhalafatul lil hawadits, yakni sifat Allah yang Maha Suci dan tidak serupa dengan makhluk-makhluk-Nya. Dia tidak bersemayam sebagaimana duduknya makhluk, dan keberadaan-Nya di atas langit tidak berarti Dia lemah atau terpisah dari pengaturan alam.

Sebagai penutup, perdebatan mengenai tempat bagi Sang Pencipta seyogianya disikapi dengan adab yang luhur. Alih-alih membayangkan bentuk atau batasan fisik yang di luar jangkauan akal manusia, tugas utama seorang mukmin adalah meyakini keagungan-Nya, mengesakan-Nya, serta menghadirkan rasa diawasi oleh ilmu-Nya dalam setiap amal perbuatan sehari-hari.

Bagian krusial apa lagi dari materi akidah atau keislaman yang ingin kamu bedah lebih mendalam pada sesi berikutnya?