Pendahuluan: Islam di Semenanjung Korea, Antara Jejak Sejarah dan Realitas Modern

Ketika membicarakan Korea—baik Selatan maupun Utara—hal pertama yang sering kali terlintas di benak masyarakat global adalah gelombang budaya populer (Hallyu), kemajuan teknologi yang pesat, K-Pop, K-Drama, atau sejarah Dinasti Joseon yang kaya akan tradisi Buddha dan Konfusianisme.

Namun, seiring dengan semakin terbukanya dunia terhadap pertukaran budaya dan globalisasi, sebuah pertanyaan yang menarik dan kerap mengundang rasa penasaran mulai sering diajukan oleh para pengamat, pelancong, serta pelajar: Apakah ada agama Islam di Korea?

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya jauh lebih mendalam daripada sekadar ya atau tidak. Keberadaan Islam di Semenanjung Korea bukanlah sebuah fenomena modern yang lahir akibat migrasi tenaga kerja dalam beberapa dekade terakhir saja. Jauh sebelum era industri modern, jejak interaksi antara dunia Islam dan Korea telah terukir dalam lembaran sejarah kuno.

Artikel mendalam ini akan mengupas tuntas perjalanan Islam di Korea, mulai dari kontak pertama pada masa dinasti abad pertengahan, masa-masa surut yang panjang, kebangkitan kembali pada era Perang Korea melalui peran tentara Turki, hingga dinamika kehidupan komunitas Muslim kontemporer di Korea Selatan saat ini.

Akar Sejarah: Jejak Awal Hubungan Dunia Islam dan Korea

Banyak sejarawan modern sering kali mengira bahwa Islam baru masuk ke Korea pada abad ke-20. Padahal, catatan sejarah membuktikan bahwa hubungan antara dunia Islam dan Semenanjung Korea telah terjalin sejak masa Dinasti Goryeo (918–1392).

Pada masa itu, jalur perdagangan maritim dan darat yang dikenal sebagai Jalur Sutra tidak hanya menghubungkan Timur Tengah dengan Cina, tetapi juga memperluas jangkauannya hingga ke ujung timur Asia, termasuk kerajaan-kerajaan di Korea.

Pedagang dan Pelaut Muslim di Era Goryeo

Berdasarkan catatan sejarah resmi Korea, seperti Goryeo-sa (Sejarah Goryeo), para pedagang Muslim dari Timur Tengah—yang pada masa itu sering disebut sebagai Dashi (merujuk pada kaum Tazhik atau Persia-Arab)—mulai berdatangan ke pelabuhan-pelabuhan Goryeo sekitar abad ke-11 Masehi.

  • Para Pendatang dari Jauh: Mereka datang membawa berbagai komoditas bernilai tinggi seperti rempah-rempah, obat-obatan herbal, beludru, dan barang pecah belah.

  • Asimilasi Budaya: Sebagian dari pedagang ini memutuskan untuk menetap, menikah dengan penduduk lokal, dan bahkan mengabdikan diri di istana kerajaan Goryeo sebagai penasihat, penerjemah, atau ahli di bidang astronomi dan pengobatan.

  • Komunitas Awal: Catatan sejarah menyebutkan bahwa beberapa dari mereka dianugerahi tanah dan posisi terhormat oleh raja Goryeo, membentuk komunitas Muslim minoritas pertama di tanah Korea.

Namun, angin perubahan politik berhembus kencang ketika Dinasti Joseon (1392–1910) menggantikan Goryeo. Joseon menerapkan kebijakan isolasionis yang sangat ketat dan mengadopsi Konfusianisme sebagai ideologi negara yang dominan.

Kebijakan ini membuat budaya asing, termasuk agama Islam, mengalami marjinalisasi. Tradisi, nama-nama Islam, dan praktik keagamaan perlahan-lahan melebur dan berasimilasi sepenuhnya dengan budaya lokal, membuat jejak Islam di Korea seolah "tidur" selama beberapa abad lamanya.

Kebangkitan Kembali: Peran Pasukan Turki di Perang Korea

Setelah tertidur selama ratusan tahun di bawah dominasi kebijakan isolasi Dinasti Joseon dan penjajahan Jepang, api Islam di Korea kembali menyala secara dramatis pada pertengahan abad ke-20, tepatnya selama berkecamuknya Perang Korea (1950–1953).

Di sinilah babak baru dan paling krusial dalam sejarah modern Islam di Korea dimulai, yang melibatkan ikatan persahabatan tak terduga antara tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan warga lokal Korea.

Kontribusi Brigade Turki

Ketika pasukan PBB dikirim untuk membela Korea Selatan, Republik Turki (yang saat itu menjadi anggota PBB) mengirimkan pasukan perdamaian yang dikenal sebagai Brigade Turki (Turkish Brigade). Di antara para tentara pemberani tersebut, terdapat banyak prajurit Muslim yang taat menunaikan kewajiban agama mereka di tengah kecamuk medan perang.

  • Pendidikan dan Kemanusiaan: Selain bertempur, tentara Turki menunjukkan kepedulian sosial yang luar biasa. Mereka mendirikan sekolah-sekolah darurat di tenda-tenda pengungsian untuk merawat dan mendidik anak-anak yatim piatu korban perang Korea.

  • Pengenalan Ajaran Islam: Melalui interaksi sehari-hari, ibadah salat, dan khotbah Jumat yang dilakukan oleh para imam militer Turki, warga Korea mulai mengenal kembali apa itu agama Islam. Beberapa warga lokal Korea yang bekerja sama atau tinggal di sekitarcamp militer Turki mulai tertarik untuk mempelajari akidah Islam.

  • Ikrar Syahadat Pertama: Pada tahun 1955, di bawah bimbingan spiritual dari para perwira agama militer Turki, sekelompok warga Korea secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat. Peristiwa bersejarah ini menandai lahirnya kembali komunitas Muslim pribumi (indigenous Muslims) di Korea modern.

Langkah Awal Pengorganisasian Komunitas Muslim Korea

Setelah berakhirnya Perang Korea dan pulangnya sebagian besar pasukan asing, para mualaf awal Korea dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana mempertahankan dan menyebarkan ajaran Islam tanpa infrastruktur yang memadai.

Dengan semangat kebersamaan yang tinggi, para mualaf pelopor ini mendirikan Korea Muslim Society (Masyarakat Muslim Korea) pada tahun 1955. Organisasi ini menjadi wadah resmi pertama bagi umat Islam Korea untuk berkumpul, belajar Al-Qur'an, dan merencanakan pembangunan fasilitas ibadah permanen.

  • Pengakuan Resmi Pemerintah: Berkat kerja keras para tokoh perintis seperti Abdul Ghafur Kuroth dan rekan-rekan mualaf lainnya, pemerintah Korea Selatan memberikan pengakuan resmi terhadap eksistensi komunitas Muslim.

  • Hubungan Internasional: Komunitas ini juga mulai menjalin hubungan diplomatik dan keagamaan dengan negara-negara mayoritas Muslim di Asia Tenggara dan Timur Tengah, yang kemudian membuka jalan bagi bantuan finansial dan moral untuk mendirikan masjid raya pertama di tanah Korea.

Bagian selanjutnya dari artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai pembangunan Masjid Pusat Seoul di Itaewon, pertumbuhan populasi Muslim modern di era kontemporer, tantangan halal di Korea, serta dinamika kehidupan sehari-hari umat Islam di tengah masyarakat Korea yang sekuler.

Masa Depan dan Integrasi Komunitas Muslim di Korea Selatan

Perkembangan Islam di Korea Selatan kini memasuki babak baru yang semakin dinamis. Tidak lagi dipandang sebagai fenomena asing, komunitas Muslim—baik dari kalangan warga lokal maupun ekspatriat—telah menjadi bagian dari keragaman sosial di negeri ginseng.

Pemerintah dan masyarakat setempat perlahan menunjukkan keterbukaan yang lebih besar terhadap kebutuhan warga Muslim. Hal ini tercermin dari beberapa aspek penting:

  • Infrastruktur Ramah Muslim: Tersedianya ruang salat (prayer rooms) di tempat-tempat publik utama seperti Bandara Internasional Incheon, pusat perbelanjaan, dan universitas terkemuka.

  • Perluasan Sertifikasi Halal: Restoran dan produk makanan berlabel halal semakin mudah ditemukan, terutama di kawasan populer seperti Itaewon, Hongdae, dan Nami Island.

  • Pendidikan dan Dakwah: Peran lembaga seperti Korea Muslim Federation (KMF) semakin aktif dalam memberikan layanan keagamaan, pendidikan Al-Qur'an bagi anak-anak, serta menerbitkan literatur Islam berbahasa Korea.

"Kehadiran Islam di Korea Selatan adalah bukti nyata bagaimana nilai-nilai universal dapat beradaptasi dan berdialog secara harmonis dengan budaya lokal yang dinamis."

Meskipun tantangan seperti minimnya pasokan makanan halal di luar kota besar atau keterbatasan pemahaman masyarakat awam tentang ajaran Islam masih ada, tren inklusivitas menunjukkan arah yang sangat positif. Generasi muda Korea juga semakin terbuka terhadap pertukaran budaya global, termasuk mengenal nilai-nilai Islam secara lebih objektif melalui internet dan media sosial.

Ke depan, harmoni antara tradisi lokal Korea dan identitas Islam diprediksi akan terus tumbuh. Komunitas Muslim di Korea Selatan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai jembatan penting dalam mempererat hubungan antara Korea dan dunia Islam internasional.

Bagaimana pandangan Anda mengenai perkembangan komunitas Muslim di negara-negara non-Muslim seperti Korea Selatan ini?