Sebagai bagian akhir dari pembahasan mengenai sifat-sifat Allah Ta'ala, penting untuk memahami batasan akal manusia dalam memandang zat Sang Pencipta. Dalam disiplin akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, metode yang dipegang teguh adalah mengimani seluruh dalil sahih dari Al-Qur'an dan Sunnah tanpa melakukan tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak), takyif (membayangkan bentuk), maupun tasybih (menyerupakan dengan makhluk).
Ketika Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadis riwayat Imam Muslim bahwa hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah Yang Maha Pengasih, para ulama salaf menerima berita tersebut dengan keimanan yang utuh. Kata "jari" (ushbu') dan "tangan" ditetapkan sebagai sifat hakiki bagi Allah yang layak dan pantas bagi keagungan serta kemuliaan-Nya, tanpa dicari-cari bentuk fisiknya. Akal manusia mustahil dapat melingkupi hakikat zat Allah karena keterbatasan ciptaan, sebagaimana firman-Nya bahwa Dia tidak serupa dengan sesuatu apa pun.
Sikap terbaik bagi seorang Muslim adalah menyerahkan tata cara atau hakikat sebenarnya kepada Allah semata (tafwidh al-kaifiyat), sambil meyakini makna keagungannya secara bahasa. Keimanan semacam ini justru menumbuhkan rasa pengagungan yang mendalam (ta'dim), kesadaran diri akan kelemahan makhluk, serta menghindarkan diri dari perdebatan spekulatif yang melampaui batas wahyu. Dengan demikian, pembahasan mengenai sifat-sifat khabariyah seperti ini kian memperkokoh tauhid, membersihkan pemikiran dari penyimpangan, serta mengarahkan hati agar senantiasa tunduk mutlak kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.