Tentu saja ada. Anggapan bahwa negara maju sepenuhnya terbebas dari jerat kemiskinan adalah sebuah ilusi optik global yang keliru. Kemiskinan di kawasan makmur memang jarang berwujud kelaparan ekstrem atau ketiadaan pakaian dasar. Bentuknya berevolusi. Di balik pencakar langit New York atau kerapian lanskap Tokyo, jutaan jiwa berjuang keras sekadar untuk bertahan hidup. Kemiskinan di sana bersifat relatif, mengisolasi individu dari standar hidup layak yang dianggap wajar oleh masyarakat sekitarnya. Kemegahan ekonomi nasional sering kali menjadi topeng yang menyembunyikan jurang ketimpangan sosial yang kian menganga tajam.

Statistik Kelam di Balik Statistik Mewah

Data tidak pernah berbohong, meski sering kali diabaikan. Di Amerika Serikat, negara dengan produk domestik bruto terbesar di dunia, garis kemiskinan resmi mencakup lebih dari 37 juta jiwa. Menurut laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), tingkat kemiskinan relatif di Inggris dan Amerika Serikat konsisten berada di atas angka 11 persen. Artinya, satu dari delapan orang hidup di bawah taraf minimum nasional. Di Jepang, fenomena kemiskinan tersembunyi menimpa hampir 15 persen populasi, dengan angka kemiskinan anak yang mengejutkan tinggi. Lansia di Korea Selatan bahkan menghadapi krisis ekonomi personal yang tragis; hampir separuh dari mereka hidup dalam privasi finansial yang akut. Angka-angka ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi agregat tidak serentak menetes ke lapisan masyarakat terbawah. Anggaran belanja negara yang megah kerap kontras dengan saldo tabungan warganya yang nihil.

Dua Wajah Kemiskinan: Absolut Versus Relatif

Memahami kemiskinan di negara maju memerlukan kacamata komparatif. Kita harus membedakan antara kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Pada paradigma kemiskinan absolut, fokus utama terletak pada pemenuhan kebutuhan fisik mendasar: makanan, air bersih, dan tempat bernaung. Pola ini dominan di negara berkembang. Sebaliknya, negara maju bergulat dengan kemiskinan relatif. Konsep ini diukur berdasarkan ketimpangan pendapatan dalam satu wilayah. Seorang warga di London mungkin memiliki smartphone dan akses listrik, namun jika pendapatannya tidak cukup untuk membayar sewa hunian standar, membeli makanan bergizi, atau mengakses transportasi publik, ia resmi dikategorikan miskin. Pendekatan relatif menekankan pada ketidakmampuan berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan sosial dan ekonomi yang normal. Perbandingan ini membuktikan bahwa tolok ukur kesejahteraan bersifat dinamis dan kontekstual.

Jebakan Sistemik dan Bahaya Latent yang Mengintai

Ada bahaya besar ketika sebuah negara mengabaikan kantong-kantong kemiskinan di tengah kemakmurannya. Risiko paling nyata adalah maraknya fenomena eviksi dan tunawisma akibat lonjakan harga properti yang tak terkendali. Ketika gentrifikasi melahap kawasan pemukiman murah, warga berpenghasilan rendah terdesak ke pinggiran, bahkan terlempar ke jalanan. Selain itu, ketergantungan pada pinjaman online atau kredit berbunga tinggi menjadi jebakan utang yang mematikan bagi kelompok rentan. Tanpa jaring pengaman sosial yang solid, krisis kesehatan singkat atau pemutusan hubungan kerja bisa seketika melempar keluarga kelas menengah ke jurang kebangkrutan. Ketimpangan yang dibiarkan menumpuk ini pada akhirnya merusak fondasi demokrasi, memicu polarisasi politik yang ekstrem, serta memicu peningkatan angka kejahatan jalanan.