Apa Itu KDB Rendah dan Mengapa Penting di Perencanaan Kota?

KDB, atau Koefisien Dasar Bangunan, adalah istilah dalam tata ruang yang menunjukkan seberapa besar luas bangunan boleh dibangun di atas sebidang lahan. Angka ini biasanya dinyatakan dalam persentase. Misalnya, jika sebidang tanah seluas 100 meter persegi memiliki KDB 30%, maka luas bangunan maksimal yang boleh dibangun di atasnya adalah 30 meter persegi.

KDB rendah merujuk pada kawasan—biasanya pemukiman atau perkantoran—dengan koefisien dasar bangunan yang tidak lebih dari 30%. Ini artinya, pembangunan di kawasan tersebut dibatasi agar tidak terlalu padat. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang lebih nyaman, tidak terlalu sesak, dengan ruang terbuka hijau yang cukup, serta sirkulasi udara dan cahaya alami yang baik.

Di sisi lain, ada juga KDB sedang hingga tinggi yang bisa mencapai di atas 30%, bahkan di kawasan perumahan tertentu seperti di pulau-pulau besar, KDB bisa mencapai maksimal 60%. Namun, KDB tinggi biasanya diterapkan di kawasan perkotaan yang memang membutuhkan densitas tinggi, seperti pusat bisnis atau kawasan hunian vertikal.

Penerapan KDB rendah sangat penting untuk menjaga kualitas hidup di perkotaan. Dengan ruang bangunan yang tidak terlalu padat, risiko banjir bisa berkurang, suhu lingkungan lebih stabil, dan kenyamanan penghuni rumah atau kantor tetap terjaga.

Jadi, saat kamu melihat suatu kawasan terasa lebih lapang dan asri, bisa jadi itu karena wilayah tersebut menerapkan aturan KDB rendah. Aturan ini bukan hanya soal teknis perizinan, tapi juga bagian dari upaya menciptakan kota yang lebih layak huni.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait