Perjanjian Sebelum Kehidupan di Dunia

"Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan menyaksikan mereka terhadap diri mereka sendiri." (QS. Al-A’raf: 7:172). Ayat ini menggambarkan sebuah peristiwa yang terjadi jauh sebelum manusia dilahirkan ke dunia β€” sebuah perjanjian suci antara manusia dan Sang Pencipta.

Perjanjian itu bukan sekadar kisah simbolis, tetapi keyakinan yang mendalam dalam ajaran Islam. Di saat ruh manusia masih dalam alam ghaib, Allah mengajukan pertanyaan: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Dan seluruh ruh menjawab: "Betul, kami menjadi saksi." Dari situlah asal mula fitrah setiap manusia β€” untuk mengenal dan mengimani Allah.

Perjanjian ini tidak hanya melibatkan manusia biasa, tetapi juga para nabi dan rasul. Mereka diutus bukan untuk menciptakan keimanan dari nol, tetapi untuk mengingatkan umat akan janji yang telah mereka ikrarkan sejak dulu. Setiap ajaran yang dibawa para rasul, dari Nuh hingga Muhammad, pada dasarnya adalah seruan kembali ke fitrah tersebut.

Inilah yang menjelaskan mengapa setiap manusia, tanpa diajari pun, sering kali merasa ada yang 'kurang' saat menjauh dari Tuhan. Hati nurani yang merindukan kembali pada kebenaran adalah sisa dari saksi yang pernah diberikan.

Jadi, kehidupan di dunia bukan awal dari perjalanan rohani, melainkan kelanjutan dari sebuah komitmen yang telah lama diikrarkan. Dan tugas kita adalah menghidupkan kembali ingatan akan janji itu β€” melalui ibadah, ketulusan, dan pengabdian kepada Allah.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait