Apakah Masih Ada IPA dan IPS di Kurikulum Merdeka?

IPA, IPS, dan Bahasa—tiga kata yang sudah akrab di telinga siswa SMA. Selama puluhan tahun, ketiga jurusan ini menjadi penentu arah belajar siswa di jenjang menengah atas. Namun, dengan kehadiran Kurikulum Merdeka, segalanya berubah.

Ya, tidak lagi ada pembagian jurusan seperti IPA, IPS, atau Bahasa dalam struktur baru ini. Kebijakan ini diterapkan serentak di seluruh Indonesia sebagai bagian dari reformasi pendidikan yang lebih fleksibel dan berpusat pada siswa. Alih-alih dipisah sejak kelas sepuluh, siswa sekarang diberi kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai bidang ilmu lebih dulu sebelum memilih fokusnya.

Kurikulum Merdeka mengedepankan pendekatan holistik. Siswa tidak langsung dikotak-kotakkan, melainkan diberi ruang untuk mengenali minat dan bakat mereka secara lebih bebas. Mata pelajaran pun dirancang lebih tematik dan terintegrasi, sehingga pembelajaran terasa lebih bermakna dan kontekstual.

Namun, bukan berarti ilmu-ilmu seperti matematika, sains, atau sosial dihilangkan. Mereka tetap diajarkan, hanya saja dalam bentuk yang lebih menyeluruh. Misalnya, konsep biologi atau fisika bisa muncul dalam proyek tentang lingkungan, sementara materi ekonomi atau sosiologi diberikan lewat studi kasus nyata.

Bagi sebagian orang tua atau guru, perubahan ini mungkin terasa asing. Tapi di balik ketidakbiasaan itu, ada tujuan mulia: menciptakan lulusan yang tidak hanya pintar, tapi juga mampu berpikir kritis, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah secara utuh.

Jadi, meski IPA dan IPS tidak lagi menjadi "jurusan", semangat pembelajarannya tetap hidup—hanya saja, sekarang lebih fleksibel, lebih manusiawi, dan lebih merdeka.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait