Stunting Tidak Hanya Soal Balita, Remaja Juga Bisa Terdampak
Stunting sering dianggap hanya masalah pada anak balita. Namun, dampaknya bisa terbawa hingga masa remaja, bahkan dewasa. Jawaban dari pertanyaan ini jelas: iya, remaja bisa terkena stunting – bukan karena tumbuhnya tiba-tiba terhambat saat pubertas, tetapi karena akar masalahnya sudah terjadi sejak dini.
Ketika seorang anak mengalami kekurangan gizi kronis di masa 1.000 hari pertama kehidupan – terutama sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun – pertumbuhan fisik dan otaknya bisa terganggu. Jika kondisi ini tidak ditangani, anak akan mengalami stunting. Saat mereka tumbuh menjadi remaja, tinggi badan yang lebih pendek dari standar usia, perkembangan seksual yang terlambat, hingga konsentrasi belajar yang lemah bisa menjadi tanda-tanda bahwa stunting masih membayangi.
Faktor utama tetap adalah gizi buruk di masa awal kehidupan. Namun, lingkungan, akses terhadap air bersih, pola asuh, dan layanan kesehatan juga turut berperan. Banyak orang tua tidak sadar bahwa kekurangan gizi di usia dini bisa muncul dampaknya bertahun-tahun kemudian.
Kenali tanda-tandanya: remaja yang tingginya jauh di bawah teman sebaya, pertumbuhan tubuh yang lambat, atau mudah lelah. Intervensi seperti perbaikan pola makan, konsumsi makanan bergizi tinggi, dan pemeriksaan rutin ke puskesmas bisa membantu meminimalkan dampak jangka panjang.
Mencegah stunting harus dimulai sejak dini. Tapi bagi remaja yang sudah terdampak, dukungan keluarga, sekolah, dan layanan kesehatan bisa membantu mereka tetap tumbuh optimal meski dengan keterbatasan. Karena setiap anak berhak tumbuh sehat dan kuat, tak peduli seberapa kecil kesempatannya di awal kehidupan.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.