Santan sering kali dituduh sebagai biang keladi melonjaknya kadar kolesterol dalam darah. Banyak orang langsung menghindari hidangan bersantan karena takut akan risiko penyakit jantung. Namun, benarkah demikian? Berdasarkan data resmi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, anggapan bahwa santan mengandung kolesterol ternyata hanyalah sebuah mitos belaka.
Secara ilmiah, kolesterol hanya diproduksi oleh tubuh manusia dan hewan. Menurut dr. Diana Suganda SpGK, seorang spesialis gizi klinik dari Rumah Sakit Pondok Indah, buah-buahan secara alami sama sekali tidak mengandung kolesterol. Karena kelapa termasuk dalam kategori buah-buahan, maka air maupun daging buahnya—termasuk santan yang diperas darinya—secara otomatis bebas kolesterol.
Meskipun bebas kolesterol, bukan berarti kita bisa mengonsumsinya secara berlebihan tanpa aturan. Santan memiliki kandungan asam lemak jenuh yang cukup tinggi. Ketika santan dimasak dalam waktu yang lama atau dipanaskan berulang kali—seperti pada hidangan rendang atau gulai—struktur lemak di dalamnya dapat berubah. Proses pemanasan yang berlebihan inilah yang memicu hati dalam tubuh kita untuk memproduksi lebih banyak kolesterol jahat (LDL).
Oleh karena itu, kunci utama dalam menikmati kelezatan santan terletak pada cara pengolahan dan porsinya. Sebaiknya konsumsi santan segar yang tidak dimasak terlalu lama, dan padukan dengan pola makan tinggi serat seperti sayur dan buah. Dengan pengolahan yang tepat, Anda tetap bisa menikmati hidangan tradisional nusantara tanpa harus khawatir merusak kesehatan tubuh.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.