Kenapa Anak Remaja Bisa Stres?
Remaja adalah masa transisi yang penuh gejolak, bukan hanya fisik tapi juga emosional. Tak heran jika banyak anak remaja mengalami stres, bahkan depresi. Penyebabnya bisa bermacam-macam, dan sering kali merupakan gabungan dari faktor dalam dan luar diri.
Faktor genetik ternyata memegang peran penting. Jika ada riwayat gangguan kecemasan atau depresi dalam keluarga, risiko remaja mengalami stres jadi lebih tinggi. Selain itu, perubahan hormon yang terjadi selama masa pubertas juga bisa mengacak-acak emosi. Kadang mereka merasa sedih tanpa alasan jelas, mudah marah, atau tiba-tiba menarik diri dari lingkungan.
Hal lain yang tak kalah penting adalah keseimbangan zat kimia di otak—neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin. Jika produksinya terganggu, mood bisa ikut terganggu. Inilah yang membuat beberapa remaja lebih rentan merasa cemas atau putus asa, meski dari luar terlihat baik-baik saja.
Tak bisa dilupakan juga pengalaman masa kecil yang traumatis. Anak yang pernah mengalami pelecehan fisik atau emosional, kehilangan orangtua, atau tumbuh dalam lingkungan tidak stabil secara psikologis, cenderung lebih mudah stres saat remaja. Trauma lama bisa "bangun" kembali saat mereka menghadapi tekanan baru, seperti tuntutan sekolah, pergaulan, atau ekspektasi dari orang tua.
Orangtua dan guru perlu peka. Stres pada remaja tak selalu terlihat dari tangisan atau amukan. Kadang ia muncul dalam bentuk diam, menarik diri, atau perubahan drastis dalam perilaku. Memberi ruang untuk bicara, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mencari bantuan profesional jika perlu bisa jadi langkah penyelamat.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.