Yesus Disebut Bapa? Mengapa Bisa?
Sering kali muncul pertanyaan: "Kenapa Yesus disebut Bapa?" Padahal dalam doktrin Kristen, Bapa, Anak (Yesus), dan Roh Kudus adalah tiga pribadi yang berbeda dalam satu kesatuan Allah. Namun, penting untuk memahami bahwa ketika Yesus disebut Bapa, bukan berarti menyamakan peran secara harfiah, melainkan menunjukkan pada hakikat ilahi-Nya.
Yesus adalah Allah Putera, yang dari segi keilahian, sama dengan Allah Bapa. Ia bukan hanya utusan, tetapi bagian dari satu kesatuan ilahi yang kekal. Dalam Yohanes 1:1, tertulis: "Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah." Firman yang dimaksud di sini adalah Yesus sendiri, yang telah ada sejak awal, bersama Bapa.
Ketika Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30), Ia menyatakan kesatuan hakikat, bukan kesatuan pribadi. Artinya, meskipun berbeda dalam peran dan relasi, Ia dan Bapa adalah satu dalam esensi ilahi. Karena itulah, menyebut Yesus sebagai Bapa dalam konteks tertentu bukanlah kesalahan, selama dimengerti bahwa ini merujuk pada sifat ke-Allah-an-Nya yang setara dengan Bapa.
Bagi orang Kristen, kepercayaan ini bukan sekadar teori teologis, tapi pengakuan iman bahwa Yesus bukan hanya nabi atau guru, tetapi Tuhan yang datang dalam rupa manusia. Ia layak dipuji, disembah, dan dipercaya sebagai bagian dari Allah yang satu—Bapa, Putera, dan Roh Kudus.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.