Asal-Usul Kata "Ateis" dalam Sejarah
Kata "ateis" mungkin sering terdengar, tapi siapa sebenarnya yang mempopulerkan istilah ini? Meski ketidakpercayaan terhadap Tuhan sudah ada sejak zaman kuno, istilah "ateis" baru mulai digunakan secara terbuka oleh seorang filsuf Prancis abad ke-18, Baron d'Holbach.
Dalam bukunya yang terkenal, The System of Nature (1770), d'Holbach secara gamblang menolak keberadaan Tuhan dan menyebut agama sebagai ilusi yang merugikan masyarakat. Ia adalah salah satu dari sedikit pemikir pada masanya yang berani menyebut dirinya ateis tanpa rasa malu atau takut terhadap otoritas gereja maupun kerajaan.
Sebelum d'Holbach, banyak filsuf Eropa yang meragukan Tuhan, seperti David Hume atau Voltaire, tapi mereka cenderung berhati-hati dalam menyampaikan pendapat. Mereka lebih memilih istilah seperti "deis" atau sekadar skeptis. Namun d'Holbach tampil beda. Ia tidak hanya menulis, tapi juga menciptakan ruang diskusi di rumahnya, mengundang para intelektual untuk berdebat bebas soal agama, moral, dan alam semesta — tanpa campur tangan kepercayaan.
Pemikirannya memang kontroversial di zamannya. Gereja dan pemerintah mengecam karyanya, bahkan membakar bukunya secara terbuka. Tapi justru dari situlah benih pemikiran sekuler mulai tumbuh. Warisannya membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk berpikir lebih bebas.
Jadi, meski ateisme sebagai gagasan mungkin sudah ada sejak lama, Baron d'Holbach pantas disebut sebagai tokoh yang pertama kali membawa kata "ateis" ke panggung publik dengan kepala tegak. Ia bukan hanya pencipta istilah, tapi juga peletak dasar bagi kebebasan berpikir di dunia modern.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.