Sampai Usia Berapa Anak Bisa Mengalami Stunting?
Stunting bukan hanya soal tinggi badan yang lebih pendek dari rata-rata, tapi juga mencerminkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang kurang. Masalah ini paling kritis terjadi sejak masa kehamilan hingga anak menginjak usia dini.
Menurut UNICEF, stunting diukur pada anak usia 0 hingga 59 bulan, atau kurang dari 5 tahun. Pada rentang usia inilah fondasi pertumbuhan fisik dan otak anak berkembang pesat. Jika kebutuhan gizi, perawatan, dan lingkungan pendukung tidak terpenuhi, risiko stunting meningkat—terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan, mulai dari dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun.
Stunting diukur dengan membandingkan tinggi badan anak terhadap standar pertumbuhan WHO. Anak dikategorikan mengalami stunting jika tinggi badannya lebih pendek dari minus dua standar deviasi (moderate to severe stunting) dibandingkan anak seusianya. Sedangkan stunting kronis terjadi jika angkanya mencapai minus tiga standar deviasi.
Yang perlu dicatat, dampak stunting di masa kecil bisa membekas hingga dewasa—baik secara fisik maupun kognitif. Itu sebabnya pencegahan harus dimulai dari awal, mulai dari gizi ibu hamil, ASI eksklusif, makanan pendamping ASI bergizi, hingga akses kesehatan dan sanitasi yang baik.
Meskipun stunting umumnya diukur hingga usia 5 tahun, dampaknya bisa terasa seumur hidup. Maka dari itu, periode emas ini harus benar-benar dimaksimalkan untuk memastikan anak tumbuh sehat, cerdas, dan kuat.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.