Apa Itu Tantrum pada Anak dan Mengapa Bisa Terjadi?

Tantrum sering kali membuat orang tua merasa bingung dan lelah. Tapi tahukah Anda, istilah ini sebenarnya merujuk pada ledakan emosi yang biasa terjadi pada anak-anak, terutama balita. Saat anak mengalami tantrum, mereka mungkin menangis keras, berguling-guling, atau bahkan menendang dan berteriak tanpa alasan yang jelas. Namun di balik perilaku ini, ada alasan yang cukup manusiawi.

Biasanya, anak mengalami tantrum karena mereka merasa lapar, lelah, atau tidak nyaman, namun belum mampu mengungkapkan perasaan mereka dengan kata-kata. Bayangkan bayi yang ingin sesuatu tapi belum bisa bicara, atau balita yang terlalu lelah setelah seharian beraktivitas. Ketidakmampuan mengomunikasikan kebutuhan inilah yang memicu rasa frustrasi, hingga akhirnya meledak dalam bentuk tangisan atau sikap sulit diatur.

Tantrum bukan berarti anak nakal atau bermasalah secara serius. Justru, ini adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Anak sedang belajar mengenal dan mengelola emosi mereka. Yang dibutuhkan bukan kemarahan, melainkan kesabaran dan pengertian dari orang tua.

Cara terbaik menangani tantrum adalah tetap tenang, pastikan anak aman, dan hindari memberi respons berlebihan seperti memarahi atau langsung mengabulkan permintaan. Alih-alih, bantu mereka tenang dengan suara lembut atau pelukan. Seiring waktu dan bimbingan, anak akan belajar cara menyampaikan perasaan dengan lebih baik.

Jadi, saat si kecil menangis karena mainannya direbut adik, atau marah karena tidak diberi permen, ingatlah—itu bukan drama, melainkan teriakan kecil dari hati yang masih belajar berbicara.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait