Lebih dari 1,8 miliar Muslim di seluruh dunia setiap harinya membaca teks-teks Al-Qur'an dan Hadis yang terkadang menghadirkan ungkapan antropomorfik secara literal. Jawaban singkat untuk pertanyaan apakah Allah memiliki kaki adalah: ya, teks-teks sahih menyebutkan istilah As-Saq atau Al-Qadam, tetapi makna serta hakikatnya sama sekali tidak serupa dengan anggota tubuh makhluk ciptaan-Nya. Pendekatan ini menuntut pemahaman metodologis yang sangat presisi agar seseorang tidak terjebak dalam teologi yang keliru.

Latar Belakang Metodologis dan Sejarah Diskursus Antropomorfisme

Diskusi mengenai ungkapan fisik bagi Sang Pencipta bukanlah hal baru. Ia telah menguncang mimbar-mimbar ilmu sejak abad ke-8 Masehi. Kalangan ulama salaf—Generasi Awal Islam—menghadapi kemunculan pelbagai mazhab pemikiran teologi seperti Jahmiyyah yang menolak seluruh sifat, serta Mujassimah yang justru membayangkan Tuhan layaknya bentuk fisik manusia. Di tengah pusaran perdebatannya, ungkapan seperti "Kaki" (Al-Qadam) atau "Betis" (As-Saq) muncul dalam teks Al-Qur'an Surah Al-Qalam ayat 42 dan narasi riwayat Al-Bukhari.

Para saintis teologi klasik menegaskan pentingnya kaidah dasar: Laisa Kamitslihi Syai'un (Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya). Ketika teks Wahyu memuat atribut yang secara bahasa biasa digunakan untuk organ tubuh manusia, para ulama membaginya menjadi dua pendekatan utama. Pendekatan pertama adalah Tafwid, yakni mengimani keberadaan teks tersebut tanpa memperanyakan "bagaimana" bentuknya (Bila Kaifa) dan menyerahkan hakikat maknanya kepada Sang Pencipta. Pendekatan kedua adalah Ta'wil, di mana sebagian ulama memahaminya sebagai metafora bahasa Arab yang menunjukkan keagungan, kekuatan, atau manifestasi kekuasaan pada Hari Kiamat. Konstruksi pemikiran ini mencegah terjadinya reduksi teologis yang berbahaya.

Langkah demi Langkah Memahami Teks Khabar Sifat secara Proporsional

Langkah pertama dalam mengurai teologi ini adalah meneliti keotentikan sanad dan matan teks yang bersangkutan. Sebuat narasi harus berstatus sahih secara mutlak sebelum dijadikan fondasi iktikad. Tanpa kepastian transmisi, klaim dogmatis tidak memiliki bobot ilmiah dalam tradisi keilmuan Islam.

Langkah kedua melibatkan penerjemahan linguistik secara cermat berdasarkan etnografi bahasa Arab klasik abad ke-7. Kata As-Saq dalam struktur kalimat Arab kuno acapkali bermakna "kedahsyatan" atau "puncak kesulitan sebuah peristiwa", bukan sekadar merujuk pada anatomi kaki bagian bawah. Begitu pula kata Al-Qadam yang bisa bermakna "sesuatu yang didahulukan" atau tanda kekuasaan akhir.

Langkah ketiga adalah melepaskan seluruh imajinasi visual. Otak manusia secara biologis dirancang hanya untuk memproses materi yang pernah diindera. Oleh karena itu, membayangkan bentuk fisik bagi Tuhan secara langsung melanggar batasan epistemologis manusia itu sendiri. Prinsip ini memastikan bahwa pengakuan atas sifat tidak jatuh ke dalam pembentukan citra berhala dalam pikiran.

Langkah keempat adalah menyelaraskan makna umum teks khusus tersebut dengan prinsip universal Al-Qur'an. Jika sebuah makna tekstual bertentangan dengan keagungan Tuhan yang Mahasuci dari sifat kekurangan atau keterbatasan ruang dan waktu, maka pemaknaan harfiah kasar wajib ditolak secara mutlak.

Studi Kasus Penafsiran Surah Al-Qalam Ayat 42

Mari kita bedah sebuah contoh konkret yang sering menjadi titik krusial perdebatan, yaitu firman Allah: "Pada hari ketika betis disingkapkan..." (QS. Al-Qalam: 42). Seorang pakar tafsir terkemuka dari generasi Sahabat, Abdullah bin Abbas—yang diakui keahlian linguistiknya—menjelaskan ayat ini tanpa menggunakan pendekatan fisik sempit. Beliau menyatakan bahwa ungkapan Yuksyafu 'an Saq adalah peribahasa Arab mendalam yang mengindikasikan suasana Hari Kiamat yang sangat dahsyat, genting, dan penuh kerumitan.

Ketika prajurit Arab kuno bersiap menghadapi pertempuran sengit, mereka akan menyingsingkan kain pakaian hingga menyingkap betis agar dapat berlari dan bertarung dengan bebas. Dari tradisi budaya inilah idiom tersebut lahir. Dengan demikian, penerapan studi kasus ini memperlihatkan bagaimana pemahaman linguistik lokal mampu mencegah kesalahpahaman fatal mengenai konsep Ketuhanan. Pembaca diajak untuk melihat keagungan bahasa wahyu tanpa mengurangi kesucian Sang Pencipta dari sifat-sifat fisik makhluk.

Pandangan Para Ahli dan Ulama

Para ulama dan ahli teologi Islam memiliki pendekatan yang sangat hati-hati ketika membahas teks-teks mutasyabihat yang menyebutkan sifat khabariyyah. Mazhab Salafus Shalih umumnya mengambil jalur mengimani teks tersebut sebagaimana mestinya tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa menanyakan bagaimana rincian bentuknya. Menurut pandangan ini, istilah tersebut diakui kebenarannya secara syariat, namun hakikatnya sepenuhnya diserahkan kepada Allah SWT karena Dialah yang Maha Suci dari segala bentuk kekurangan fisik.

Di sisi lain, mayoritas ulama Khalaf dari kalangan Asy'ariyah dan Maturidiyah lebih memilih metode tafsir kiasan atau penyerahan makna secara mutlak. Mereka memahaminya sebagai ungkapan metafora yang melambangkan keagungan, kekuasaan, atau kedahsyatan hari kiamat, sebagaimana tradisi bahasa Arab klasik sering menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan situasi yang sangat berat. Kedua pendekatan ilmiah ini pada dasarnya sama-sama bertujuan menjaga kemurnian tauhid agar terhindar dari pemahaman penyerupaan maupun pengabaian sifat Tuhan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah memahami ungkapan ini secara harfiah dapat memicu pemahaman yang keliru?

Memahami ungkapan tersebut secara harfiah tanpa batasan teologis yang tepat memang berpotensi membawa seseorang pada pemahaman antropomorfisme, yaitu menganggap Tuhan memiliki wujud fisik seperti manusia. Oleh karena itu, para ahli menegaskan pentingnya memegang prinsip utama bahwa tidak ada satu pun yang serupa dengan-Nya. Setiap penetapan sifat harus selalu diiringi dengan keyakinan teguh bahwa hakikat Tuhan tidak sebanding, tidak sejenis, dan tidak memiliki kesamaan bentuk fisik sedikit pun dengan makhluk ciptaan-Nya.

Mengapa teks keagamaan menggunakan istilah yang menyerupai istilah fisik manusia?

Penggunaan istilah-istilah tersebut dalam teks keagamaan bertujuan agar pesan-pesan ilahi dapat dicerna oleh akal manusia sesuai dengan kaidah bahasa Arab yang berlaku pada saat wahyu diturunkan. Bahasa manusia memiliki keterbatasan alamiah dalam menggambarkan dimensi keilahian yang maha gaib. Dengan menggunakan struktur bahasa yang akrab dalam komunikasi manusia, pesan moral, peringatan, dan gambaran keagungan Tuhan dapat tersampaikan secara efektif tanpa mengurangi kesucian hakikat-Nya.

Pertanyaan untuk Direnungkan

Apakah berbagai upaya dan perdebatan manusia dalam mendefinisikan wujud Tuhan justru menjadi bukti nyata atas keterbatasan akal kita sendiri dalam menjangkau keagungan yang tak terbatas?