Warisan Gotong Royong Nabi Muhammad
Saat membangun masjid pertama di Kota Madinah, Nabi Muhammad tidak hanya memberi petunjuk, tapi turun langsung bergabung dengan para sahabat. Beliau ikut mengangkat batu, menyusunnya, dan bekerja dengan tangan sendiri meski bisa saja memerintahkan orang lain.
Gotong royong bukan sekadar budaya, tapi juga ajaran yang dicontohkan Rasulullah. Dalam perjalanan hijrah, kaum Muhajirin dan Anshar bekerja sama membangun tempat ibadah dan pusat kehidupan muslim. Nabi tidak ingin ada jarak antara pemimpin dan rakyatnya—beliau adalah pemimpin yang bersedia bersama di lapangan.
Bahkan ketika ada sahabat yang ingin mencegah beliau bekerja karena khawatir beliau kelelahan, Nabi tetap bersikeras. “Biarkan aku ikut bekerja seperti kalian,” ujarnya. Itu bukan sekadar pembangunan fisik masjid, tapi juga simbol persaudaraan, kesetaraan, dan kerja sama.
Kebersamaan dalam membangun Masjid Nabawi menjadi pelajaran penting hingga kini. Nabi menunjukkan bahwa kepemimpinan terbaik adalah yang merakyat, mau bersusah-susah bersama, dan tidak segan mencuci tangan dari tanah dan pasir. Nilai-nilai ini masih hidup dalam tradisi gotong royong masyarakat Indonesia—dari membangun rumah hingga membersihkan lingkungan.
Jadi, ya, Nabi Muhammad bukan hanya ikut gotong royong, tapi justru menjadi teladan utamanya. Dalam kerja bersama, ada kekuatan ukhuwah yang tak ternilai.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.